Kamis, Januari 26, 2023
Google search engine
BerandaAgrokomplekWujudkan Keberlanjutan Pertanian, APEDI Jatim Memupuk Demplot Organik di Deketagung Lamongan

Wujudkan Keberlanjutan Pertanian, APEDI Jatim Memupuk Demplot Organik di Deketagung Lamongan

Jagatpos.com, Lamongan – Kondisi tanah pertanian atau sawah di Jatim (Jawa Timur) sekarang sakit, karena pengunaan pupuk dan pestisida kimia yang tidak ramah lingkungan telah mematikan mikroba dan ekosistem lainnya dalam tanah yang merupakan factor penting dalam kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan hidup kita.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pembina DPD APEDI Jatim (Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia – Jawa Timur), M. Badrin Tholchah saat pemupukan dasar pada sawah demplot padi organic seluas 2 hektar di Desa Deketagung, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Minggu (14/11/2021).

“Kondisi sawah di Jatim sedang sakit, indikasinya sekarang keadaannya sepi senyap. Beda dengan sawah jaman dulu meriah, dimana saat malam hari terliat kunang – kunang, terdengar suara kodok yang khas bersahut-sahutan dan saat siang hari aneka burung menghiasi sawah dan hewan lainnya terlihat, baik belut maupun hewan lainnya, Serta yang terpenting adalah mikroba yang menyuburkan tanah telah mati akibat sawah kita diberi pupuk dan pestisida kimia,” kata Badrin.

Dijelaskannya, tanah itu sifatnya organic, maka dengan pengunaan bahan sintetis kimia dalam pemupukan tanah pertanian akan berbahaya bagi kesuburan tanah, kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia yang memakan hasil pertaniannya tersebut. Untuk itu, treatment tanah harus organic dengan memberikan nutrisi yang berasal dari alam sekitarnya baik itu Kohe, daun-daun dan lainnya.

Ditambahkannya, rata-rata kesuburan tanah pertanian di Jatim dibawah 500 EC, padahal idealnya kesuburan tanah harus 1000 EC saat musim tanam, dan 2000 EC saat fase generative tanaman. Maka untuk mewujudkan daya dukung lahan dalam membangun pertanian yang sehat dengan kesuburan tanah sampai 2000 EC, treatment tanah harus dengan cara organic karena tanah itu sendiri sifatnya organic.

“Untuk menjaga keberlanjutan pertanian, saat ini APEDI melakukan pemupukan dasar berupa KOHE (Kotoran Heran) atau super bokasi di sawah demplot padi organic Deketagung. Treatment ini bertujuan memperbaiki struktur tanah dan menghidupkan kembali mikroba sawah Deketagung agar bisa mencapai kesuburan 1000 EC saat musim tanam padi organik, dan 2000 EC saat fase generative tanaman, sehingga hasil padinya bisa meningkat 2 kali lipat atau 200%,” jelas Badrin.

Pertanian organic itu pertanian masa depan, lanjutnya. Dengan penggunaan super bokasi yang menghidupkan 100 juta mikroba dalam 1 gram tanah, biaya Saprodi (Sarana Produksi Pertanian) berkurang 70%, karena bahan super bokasi berasal dari kohe dan alam sekitarnya yang mudah didapatkan oleh petani. Konsepnya itu kebutuhan pupuk 1 hektar sawah dapat dipenuhi oleh 3 ekor sapi, dan sebaliknya kebutuhan pakan ternak 3 sapi didapatkan dari jerami 1 hektar sawah tersebut.

“Pertanian organic itu pertanian yang terintegrasi dan berwawasan lingkungan. Karena meningkatkan produktivitas sekaligus konservasi lingkungan baik tanah maupun airnya tetap terjaga, serta mengurangi biaya Saprodi sebesar 70% karena bahannya dari alam sekitarnya,” ungkap Badrin.

Disampaikan pula, Indonesia tertinggi sebagai pemakai petisida Se- Asean. Padahal dalam publikasi ilmiah pernah melaporkan, dalam jaringan tubuh bayi yang dilahirkan seorang Ibu yang secara rutin mengkonsumsi sayuran yang disemprot pestisida, terdapat kelainan genetik yang berpotensi menyebabkan bayi tersebut cacat tubuh sekaligus cacat mental.

Lebih lanjut disampaikan, bahwa sudah saatnya kita beralih ke pertanian organic. Karena manfaatnya seperti beras organik memiliki kandungan nutrisi dan mineral tinggi, kandungan glukosa, karbohidrat dan proteinnya mudah terurai, sehingga aman dan sangat baik dikonsumsi penderita diabetes. Beras organik baik untuk program diet, mencegah kanker, serangan jantung, asam urat, darah tinggi dan vertigo,

“Beras organic itu dapat mengurangi kadar logam berat dalam darah, karena penggunaan insektisida kimiawi. Hal inilah yang dapat mencegah tubuh terserang berbagai macam penyakit berbahaya yang pada dasa warsa terakhir banyak diderita oleh masyarakat,” tandas Badrin.

Sementara itu, dalam kegiatan ini diikuti Kades Deketagung – Mujiono dan Kasun Darmo, serta DPC APEDI Lamongan, DPC APEDI Magetan – Agus dan tentunya para petani sekitar. Menurut Kades Deketagung bahwa fihaknya sangat mendukung adanya pertanian organic didesanya, karena selain menyuburkan tanah sekaligus juga meningkatkan kwalitas kesehatan masyarakat dan menyesejahterakan masyarakatnya.

“Kami sangat mendukung adanya pertanian organic disini, karena hal itu merupakan upaya keberlanjutan pertanian dan peningkatan kwalitas kesehatan masyarakat. Serta dengan kolaborasi pertanian dan peternakan dalam pertanian organic, maka akan menciptakan peluang kerja dan akhirnya masyarakat jadi sejahtera,” ucap Kades Mujiono. *[JP]

BERITA TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

TERPOPULER

KOMENTAR